Sabtu, 22 Oktober 2016

Batu Kuda, Masa Depan Manglayang

Gunung Batu Kuda Manglayang / by @adinda_hafni

Obyek wisata ini belum begitu terkenal. Belum banyak orang yang mengetahui. Mungkin mendengar pun belum, apalagi mengunjunginya. Bahkan warga di wilayah Bandung Timur sendiri, meski jarak rumahnya ke lokasi bisa ditempuh dengan jalan kaki, baru sedikit yang mengaku pernah berkunjung ke Batu Kuda. Itu pun sebagian besar remaja pelajar, anggota pramuka atau kelompok pencinta alam yang memang kerap menggelar kegiatan di sana.

Tergelitik hati untuk menengok lokasi obyek wisata itu. Rasa penasaran makin tinggi manakala membaca papan penunjuk arah di Jalan Raya Ujungberung-Cileunyi yang dipasang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung dengan tulisan “Benda Cagar Budaya SITUS BATU KUDA - Dilindungi UU RI No.5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya - Kampung Cikoneng I Desa Cibiru Wetan Kecamatan Cileunyi”. Ada keterangan jarak 7 km berikut tanda panah ke arah utara melalui Jalan Sindangreret Cibiru.

Menurut informasi yang didapat, sebenarnya banyak jalan menuju Batu Kuda. Jalan Raya Ujung-Cileunyi saja terhitung ada 5 jalur yang tembus ke sana. Wisatawan, bisa menempuh jalur sesuai petunjuk dari Disbudpar Kab. Bandung lewat Jalan Sindangreret atau bisa juga lewat Jalan Manisi, Jalan Ciguruik, Jalan Cimekar, Jalan Paledang atau Jalan Pasar Cileunyi.

Namun berdasarkan pengalaman, perjalanan yang lebih praktis menuju Batu Kuda melewati Jalan Paledang. Jalan ini relatif lurus, tidak banyak persimpangan yang membingungkan sehingga wisatawan dijamin cepat sampai ke lokasi. Lain halnya kalau lewat Jalan Sindangreret. Di sepanjang jalan sama sekali tidak ada petunjuk. Kemungkinan besar wisatawan akan salah jalan jika tak banyak bertanya kepada penduduk.

Sesampai di lokasi, ternyata adanya perbedaan penulisan antara plang yang dipasang Disbudpar Kab.Bandung dengan yang dibuat oleh pengelola, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat KPH Bandung Utara, BKPH Manglayang Barat, RPH Ujungberung. Jika Disbudpar menulis lokasi itu sebagai situs, tetapi Perum Perhutani jelas-jelas memberitahukan kepada pengunjung bahwa Batu Kuda merupakan lokasi Wana Wisata dan Bumi Perkemahan. Tidak ada satu pun tulisan di situ yang menyebutkan Batu Kuda sebagai situs.

Setelah melakukan pendakian sejauh 700 m dari pintu gerbang, tibalah di lokasi Batu Kuda berada. Batu besar dengan berat puluhan ton ukuran sekitar belasan meter kubik—yang mirip kepala kuda—itu, sepertinya sudah lama sekali teronggok di lereng Gunung Manglayang. Sangat masuk akal jika kemiripannya dengan kepala kuda berasal dari proses alami, atau secara tak sengaja dan samasekali bukan hasil perbuatan manusia.

Plang yang dipasang di Jalan Ujungberung-Cileunyi itu sebaiknya diralat dengan meniadakan kata “situs” pada Batu Kuda. Karena jika sudah menginjakkan kaki di sana, orang awam pun bisa menilai Batu Kuda tidak termasuk situs, bukan peninggalan dari suatu peradaban manusia. Batu besar yang menyerupai kepala kuda itu tidak menampilkan ciri sebagai artefak atau benda purbakala.

Untuk itu, alangkah baiknya para pejabat Disbudpar Kab. Bandung berkunjung ke Wana Wisata Batu Kuda—yang notabene masih berada di wilayah kerjanya—bersama arkeolog, ahli purbakala guna meneliti satu persatu bongkahan batu besar yang banyak bertebaran di situ, agar kata “situs” yang ditulis di plang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Samasekali tidak diharapkan adanya kesan telah terjadi mis-understanding, mis-communication, antara Disbudpar dengan Perum Perhutani dalam menginformasikan dan memublikasikan obyek wisata ini. Penelitian ilmiah pun sangat ditunggu untuk menghindari jangan sampai masyarakat berasumsi ada kebohongan dalam penulisan “Situs Batu Kuda”.

Sebab, menurut pengamatan beberapa pengunjung, Batu Kuda dan batu-batu besar lainnya yang bertebaran secara terpisah di di lokasi tersebut, besar kemungkinan meluncur dari puncak ke lereng gunung akibat longsor atau letusan pada zaman dahulu kala. Pasalnya, tiap letakan batu besar selalu dikelilingi oleh batu-batu berukuran lebih kecil yang berserakan di bawahnya, sehingga sekilas pun dapat ditarik simpul bahwa semuanya adalah batu-batu alam yang samasekali belum dijamah oleh peradaban dan kebudayaan manusia.

Terlepas dari sedikitnya rasa kecewa para pengunjung, yang jelas obyek wisata alam Batu Kuda di kemiringan lereng Gunung Manglayang itu cukup indah, nyaman, dengan kesejukan udara pegunungan yang memiliki ketinggian sekitar 1.100 m dari permukaan laut. Arealnya yang luasnya, yaitu 40,65 hektar, rimbun oleh pohon-pohon pinus yang menjulang. Sangat cocok bagi warga perkotaan yang ingin melepas kepenatan dari hiruk-pikuk kehidupan kota yang serba sibuk, untuk sekali-kali bersantai menghirup udara segar sambil jogging atau melakukan hicking, ke puncak gunung yang jaraknya 3 km dari pintu gerbang.

Area Perkemahan Batu Kuda

Ternyata, wana wisata yang lebih dikenal di kalangan pendaki gunung dan pencinta alam, tak sekadar memiliki batu besar mirip kepala kuda yang kemudian menjadi icon lokasi itu. Tetapi di situ pun terdapat batu-batu besar lainnya sebagai obyek kunjungan wisatawan, Batu Ampar, Batu Kursi, Batu Tumpeng, Batu Lawang, dan Batu Keraton yang jaraknya dari pintu gerbang 2,5 km. Pada Minggu belum lama ini tampak beberapa kelompok pencinta alam, klub sepeda gunung dan penunggang motocross mencoba melakukan pendakian di lereng yang cukup terjal dan menantang itu.

Dengan hanya membayar tiket masuk Rp.3 ribu per-orang, pengunjung bisa bersantai dan botram bersama keluarga, atau melakukan olah fisik dengan berolahraga di alam bebas di obyek wisata Batu Kuda yang sejuk dan nyaman. Bagi yang gemar berpetualang atau berkemah, dengan hanya membayar tiket Rp.5 ribu per-orang, bisa melakukan aktivitasnya di sana dengan aman. Batu Kuda, telah sengaja menyediakan Bumi Perkemahan dan memang cocok untuk kegiatan camping.

Selain berolahraga, mendaki gunung atau berkemah, juga di lokasi itu terdapat track motor ATP yang bisa disewa pengunjung, meski bila banyak peminat terpaksa harus sabar antri karena pengelola hanya memiliki 2 unit ATP. Sayang sekali, arena ketangkasan dan uji nyali outbond di sana tidak dilengkapi fasilitas yang memadai. Bahkan yang ada pun kondisinya tidak terawat, seolah dibiarkan rusak. Parahnya lagi, jembatan penyeberangan dari bambu untuk melintas tebing, keadaannya rusak berat, tidak bisa digunakan, disfunction, dan tampaknya belum ada pekerja yang berusaha memperbaiki.

Sayang, kekayaan alam yang memiliki potensi besar untuk dunia kepariwisataan ini dikelola alakadarnya, seadanya dan belum digali secara optimal untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi masyarakat luas, yang tentunya dapat menjadi aset pendapatan Perum Perhutani dan PAD (pendapatan asli daerah). Padahal, keindahan alamnya sangat menjanjikan jika dikemas sedemikian rupa oleh pengelola profesional. Tidak seperti sekarang, terutama kaum hawa yang terbiasa dinyamankan fasilitas perkotaan, merasa risih ketika terpaksa masuk ke toilet MCK di lokasi wisata itu.

Tetapi, rasa prihatin sepulang berkunjung terobati oleh harapan-harapan yang sangat mungkin dan bukan hal mustahil dapat terwujud di masa mendatang. Batu Kuda, adalah obyek wisata masa depan yang memang untuk sekarang belum diberdayakan secara maksimal. Kelak, wana wisata ini akan menjadi asset pariwisata Kabupaten Bandung dan bahkan Jawa Barat, benar-benar menjadi milik yang membanggakan masyarakat Bandung dan sekitarnya. Khususnya yang berdomisili di wilayah Bandung Timur, dapat merasakan manfaat keberadaan Batu Kuda sebagai penunjang kesejahteraan mereka.

Batu Kuda, nanti tidak akan tinggal diam dan teronggok begitu saja di tempatnya sekarang. Dia, akan berlari kencang mengitari jagat raya untuk mengundang wisatawan, baik domestik mau pun mancanagara, supaya berkunjung ke lokasinya dengan jaminan bakal memberi kesan dan kenangan indah. Lokasinya sendiri akan ditata demi memasilitasi seluruh kebutuhan pengunjung. Nanti, jangankan remaja atau kaum muda, manula (manusia lanjut usia) dan penyandang cacat pun bisa leluasa mengitari areal hutan ini, karena akan dibuat trek khusus untuk jalan menuju lokasi-lokasi tertentu.

Pengelola yang akan datang, pasti bekerja keras membenahi lokasi dengan dibarengi penyebaran informasi lewat spanduk, booklet, brosur, media massa cetak atau elektronik, untuk menarik minat masyarakat berkunjung ke Batu Kuda. Sesampai di sana, sebelum melakukan pendakian ke batu-batu dan puncak gunung, terlebih dulu pengunjung disuguhi atraksi seni-budaya dan hiburan yang mengesankan. Harapan ini niscaya bukan sekedar harapan.


EmoticonEmoticon