Sabtu, 23 September 2017

6 Wisata Keren Gorontalo

Denger denger Gorotalo masuk dalam kategori 5 Provinsi termiskin di Indonesia. Tapi dibalik gelar itu ternyata Gorontalo punya sejuta wisata yang keren banget. Hampir 9 bulan saya bertugas disini dan berikut wisata wisata yang sempat saya Kunjungi : 

Pantai Botutonuo

Snorkling
Pantai ini terkenal dengan keindahan bawah laut, karang karang yang bersih dan banyak ikannya, tinggal kasih biskuit tar pada dateng. Untuk Snorkling cucok banget pokoknya. Harga sewanya 50 ribu untuk sewa alat + fotografer bawah air tapi harus banyakan karena sewa kapalnya 400 ribu bisa masuk untuk 10 orang. Perjalanan dari Kota Gorontalo kesana sekitar 1 jam bisa naik bentor tapi lambat dan tidak aman, sebaiknya sewa mobil PO.

Sayangnya pesisir pantai ini jelek banget, banyak kerikil batunya jadi ga enak kalo mau santai berjemur, lokasinya belum terawat dan kotor, akses transportasi jelek, dilaut pake kapal apa namanya gitu lupa tapi ada juga kapal yang bagus. kalo didarat cuma ada bentor dan ongkosnya ga jelas, semoga nanti gojek rangkul para bentor digorontalo yaaah. 

Pulau Saronde

pulau saronde
Pulau ini beranda di Kabupaten Gorontalo Utara, dari Bandara bisa ditempuh sekitar 2 jam pake mobil PO ongkosnya ga tau dan 30 menit menyebrang laut sewa kapal 400ribu pulang pergi. Pulau ini masih alami dan sudah dilengkapi fasilitas umum yang cukup bagus, dikelola oleh PT Gorontalo Alam Bahari, katanya sih yang punyanya orang Bandung jadi pantas kalo pulau ini terkelola dengan bagus. 

Disini ada cotage mulai dari 500ribu sd 1.2juta per malam, ada speedboat juga disewakan 50rb/orang atau sewa kapal seharian 700ribu. Untuk makanan juga ada cafe yang harganya murah, waktu itu kopi susu cuma 4000 ajah, sangat murah dilokasi seperti ini. Trus kalo mau foto foto doang juga boleh, cuma dikenakan cas 25ribu/orang. Banyak spot foto disini pasti puas banget.

Pantainya indah, dan ga panas kalo berenang pagi ataupun sore. cotagenya ber-ac enak banget tidur, berhubung Gorontalo cuma ada dua musim yaitu musim panas dan musim panas sekali. Tempat ini sangat saya rekomendasikan apalagi kalo honeymoon hmmm enak sepi bebas berteriak. tapi ada juga bule bule yang menikmati liburan masa pensiunannya disini. 


4 lagi tar saya update ya artikelnya, 

Lombongo Waterfall
Benteng Otanaha
Pulau Torosiaje
Mancing di Pantai Gentuma

OOPS!!! Update lagi nanti ya...

oops
Sudah hampir 9 bulan saya bertugas di Kota Gorontalo. kalo dibandingin kayaknya jauh banget suasananya sama Kota Bandung. yaaa mau ga mau harus dijalani dan bekerja semaksimal yang saya bisa. 
btw, selama saya digorontalo saya belum sempat lagi menulis, agak malas kalo pulang kerja bawaanya cape pengen tidur. kedepan juga bahasa yang digunakan apa adanya aja ya, kalo terlalu baku cape lagi mikirnya benerin kata kata dll. 

Tulisan kedepan rencananya mau saya isi dengan wisata wisata yang ada diseluruh Provinsi Gorontalo yang pernah saya kunjungi, tadinya sih mau saya posting juga kegiatan kegiatan saya tapi terlalu lelah kalo semua ditulis, mau dibuat vlog juga cape sendirian ya ga keurus. 

Banyak hal yang saya suka dan tentunya tidak saya sukai disini, untuk anak muda tentu punya pacar juga yang harusnya pacaran malah LDR yaaaaa sedih atuh. Tapi rencana tahun depan saya mau isi tulisan saya khusus traveling berdua dengan istri saya nanti. Doakan lancar yaaaa. 


Selasa, 29 November 2016

Bandung, Udara Sejuk Saja Jadi Duit

Ko menjual udara ? Apakah ada takarannya ? Ada sih takarannya jika kita menambah angin untuk sepeda motor kita. Tapi yang dimaksud bukan seperti itu. Lingkungan, hawa yang sejuk tetap akan menjadi tujuan kunjungan wisata. Kota Bandung memiliki itu. Udara atau hawa yang sejuk dan lingkungan alam yang dlihatnya merupakan asset yang berharga.

Dengan kekayaan itu Kota Bandung tidak cemas akan kehilangan wisatawan. Sebab, masyarakat pun sudah lama jeli dengan peranan pariwisata. Karena itu muncul daya dukung lainnya. Hotel/penginapan, rumah makan /restoran pun, karya kreatif untuk cenderamata bermunculan. Ekonomi rakyat terangkat. Dengan berkembangnya kepariwisataan, khususnya di Kota Bandung, tidak sedikit yang membangun lembaga pendidikan pariwisata, penganggur dari perusahaan lainnya dapat tertampung di lingkungan kegiatan wisata asal sesuai dengan persyaratan kerja yang diminta.

Orang-orang Jakarta khususnya berbondong-bondong ke Kota Bandung, bukan hanya mengejar selera makan dengan kuliner yang bertebaran di Kota Bandung, tetapi lebih khusus untuk menikmati udara atau hawa Kota Bandung yang sejuk, lingkungan alam yang asli. Di Jakarta ? Tidak demikian. Udara alias hawanya panas apalagi dengan kepadatan arus lalulintas dengan banyaknya emisi gas buang yang menyumpekkan paru-paru.
 
Salahsatu Kesejukan Bandung Raya, by @Fazarrohman

Kesejukan dan lingkungan alam yang asri, kejaran mereka. Pada masa jeda, tentu saja perut pun perlu isi dengan kuliner yang khas dan minuman yang menyegarkan. Sebelum mereka menikmati alam yang asri, mereka memesan kamar. Jika sudah puas menyaksikan lingkungan alam dan hawa yangn sejuk, barulah mereka istirahat di akomodasi yang menjadi langganannya.

Itulah kondisi Kota Bandung. Dengan udara yang sejuk saja sudah menjadi daya pikat yang sangat menakjubkan. Apalagi ditunjang dengan asset lain seperti seni budaya. Tak ketinggalan mereka pun berwisata belanja di Kota Bandung. Lokasi-lokasi belanja pun pikabitaeun. Pasar Baru saja bukan hanya incaran orang-orang Jakarta doang tapi juga sudah menjadi incaran dan tujuan wisata orang-orang di ASEAN seperti Malaysia, Singapura atau orang Thailand.

Optimisme Walikota Bandung Ridwan Kamil yang tidak cemas akan kehilangan wisatawan digambarkannya dengan target kunjungan wisatawan. Kang Emil yakin, kunjungan wisatawan itu akan terus mengalir. Jika tahun 2015 setiap hari kunjungan wisatawan mancanagara 600 orang, tahun 2017 targetnya 5.000 orang. Fantastis tapi realistis. Karena itu infrastruktur dan seni budaya tradisi terus dibangun. Yang kurang terus dibenahi dan yang baik terus dipelihara. Tong hariwang, tong honcewang, sebab daya pikat kota Bandung luar biasa. Pelancong tahu, arus lalulintas Kota Bandung selalu macet. Tetapi mereka tidak jera. Mereka selalu berweek end di Kota Bandung karena hawanya yang sejuk dengan pesona alam yang membuat mata kembali segar. Wisatawan mancanagara ? Mereka pun tidak pernah jera. Kenapa ? Sapta Pesona tersaji di Kota Bandung.

Magnit Bandung Masih Gede

Ti baheula ge daya tarik alias magnit Kota Bandung gede. Dulu, Kota Bandung menjadi tujuan pendidikan. Coba simak, lagu alias haleuang orang tua dulu saat mengasuh anaknya : nelengnengkung, nelengnengkung, geura gede geura jangkung, geura sakola di Bandung, geura makayakeun indung. Satu haleuang lagi masa kini, Bandung, Bandung, Bandung nelah kota kembang. Di riung gunung heurin ku tangtung, ider kota nu mulya Parahyangan. Kedua haleuang itu menunjukkan bahwa kota Bandung tak pernah sepi pelancong alias wisatawan. 
 
Jembatan Layang Pasupati Bandung by @galihgiffari

Simak pula kamacetan di tol Pasteur sampai ke jalan Pasteur. Kebanyakan mobil yang datang ke Bandung teh berplat nomor B. Kota Bandung masih menjadi tujuan wisata. Kenapa ? Pertama, udara segar. Banyak tanaman yang menghijau. Mau kuliner apa saja, tersaji di Kota Bandung. Akomodasi ? Banyak hotel berbintang yang tersebar di pelosok Kota. Mau hiburan ? Banyak yang bisa disaksikan.

Nah, coba pula kita tengok ke kawasan Pasar Baru alias Pasar Baru Trade Center. Bus-bus pariwisata yang selalu berjejer di sepnjang areal Pasar Baru bukan berplat nomor D. Tetapi rata-rata berplat nomor B. Pengunjungnya ? Mereka, orang-orang Malaysia atau Singapura yang ingin berwisata belanja. Orang-orang Jawa atau luar Jawa pun banyak berkunjung ke Bandung. Mereka selain ingin menyaksikan pemandangan alamnya yang mempesona, udaranya yang sejuk juga berwisata belanja sekedar oleh-oleh untuk keluarganya di kampung halamannya. 
 
Kemacetan Kota Bandung dipenuh kendaraan ber-Plat B


“Sementara Pemerintah Kota Bandung tidak pernah diam dan berusaha untuk memberi kenyamanan kepada para pelancong sebagai tamu Kota Bandung, baik infrastruktur mau pun sentra kesenian yang dipusatkan di Bandung Timur. Ujungberung. Kami menyediakan lahan 10 ha untuk sentra kesenian. Tetapi yang baru kami bebaskan 4,7 Ha. Kemudian dibebaskan pula 1,3 Ha sehingga jumlahnya menjadi 6 Ha”.

Tetapi ketika rencana ini dirembugkan kembali dengan para seniman dan budayawan, mereka menyatakan dengan luas lahan 6 Ha pun sudah memadai untuk sentra kesenian. Kenapa di Bandung Timur ? Di Ujungberung khususnya banyak macam seni budaya tradisi yang layak menjadi atraksi wisata. Pasti menarik. Karena sampai saat ini seni tradisi hampir punah. Hanya masyarakat di Ujungberunglah yang masih tetap melestarikannya.

Tahun 2010, masyarakat seni tradisi di Ujungberung mengadakan festival. Kenyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Ujungberung konsisten memelihara dan melestarikan seni budaya tradisi. Itulah sebabnya, Pemerintah Kota Bandung melirik Bandung Timur menjadi sentra seni tradisi. Pemerintah Kota Bandung sendiri berusaha menyediakan lahannya untuk digunakan masyarakat. Daya pikat lainnya bagi wisatawan, alam dan udara Kota Bandung yang sejuk dan beberapa kenangan lainnya tetap menjadi jugjugan para wisatawan. Banyaknya mengalir wisatawan yang datang ke Bandung bukan tanpa sebab. Di Kota sejuk ini, banyak yang bisa diperoleh. Karena Sapta Pesona, bersih, indah, nyaman, kenangan, penduduknya yang ramah tamah, asri, masih tetap terpelihara. Apalagi Kota Bandung kini sedang mengembangkan udara bersih dan segar di beberapa ruas jalan. Bahkan, beberapa tempat SPBU kini dijadikan ruang terbuka hijau. Ini merupakan daya pikat yang bisa mengalirkan wisatawan. “Saya tidak takut kehilangan wisatawan. Karena daya magnit Kota masih gede

Gedung Pakuan, Tempat Menginap Gegeden Walanda

Kota Bandung memiliki banyak gedung bernilai sejarah peninggalan Belanda. Saat ini orang menyebutnya sebagai heritage . Selain kompleks Gedung Sate, Gedung Dwi Warna, gedung Telkom, Museum Geologi semuanya berada di sekitar Jl. Diponegoro. Gedung Merdeka yang dulu pernah dikenal sebagai Gedung Concordia, Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Gedung PU Jawa Barat, semuanya berada di sepanjang Jl. Asia-Afrika.
 
Gedung Sate by @atikurn
 
Gedung-gedung lainnya yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi itu juga berada di sekitar Kompleks Kodam III/Siliwangi, Jl. Kalimantan, Jl. Sulawesi. Para pelancong hanya bisa menyaksikan gedung-gedung itu di luar kompleks dan masih utuh. Demikian telaten pemeliharaannya.

Salah satu bangunan peninggalan dulu, Gedung Pakuan yang dibangun tahun 1864. Perancangnya, insinyur kepala, Staf dari Residen van Der Moore. Gedung Pakuan memiliki gaya arsitektur, gaya empire Hindia yang disukai oleh para pejabat kolonial saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Bangunan yang langka tapi masih kokoh dan tetap indah menarik. Saat itu banyak gegeden Walanda yang menginap di Gedung Pakuan.
 
Sekitar Jalan Asia Afrika by @ayudrie
 
Saat diselenggarakannya Konperensi Asia-Afrika tahun 1955 di Gedung Merdeka Bandung, pernah dijadikan tempat jamuan makan para kepala negara Asia-Afrika. Mereka menyatakan kekagumannya terhadap nilai bangunan peninggalan dulu itu. Tua, tetap tetap anggun. Asri dan pikabetaheun. Dalam acara itu, para kepala negara dan tokoh-tokoh negara Asia-Afrika disuguhi atraksi seni. Mereka mengagumi seni budaya Jawa Barat (Bandung).

Walau gedung ini sudah berdiri ratusan tahun lalu, namun karena Pemerintah Provinsi merawatnya dengan baik, kondisinya demikian menarik, terutama jika wisatawan menyaksikan kondisi gedung itu. Padahal Gedung Pakuan terbuka bagi siapa pun. Tidak pernah terutup bagi kunjungan tamu, termasuk juga masyarakat Jawa Barat. Sampai saat ini masih tetap terbuka.
 
 
Gedung Merdeka Bandung  by @rizkyfebriss

Sejarah terbukanya bagi kunjungan tamu-tamu, dimulai ketika jaman pra kemerdekaan, Gedung Pakuan selalu menjadi tempat perjamuan para tamu negara. Gubernur Mas Sewaka yang pertama mendiami Gedung Pakuan ini, walau beberapa Dalem Bandung dulu pernah menghuninya. Sejak itu, sekitar tahun 1950 Gedung Pakuan menjadi rumah Dinas Gubernur Jawa Barat hingga kini.

Gedung itu masih tetap anggun, asri dengan halaman yang luas menghijau. Perombakan gedung ini sesuai dengan kebutuhan saja. Di luar masih tetap dan hanya di dalamnya saja yang disesuaikan dengan kebutuhan tuan tumah yang menghuninya. Peninggalan leluhur ini masih tetap kokoh. Di dalamnya ditata dengan apik dan di luar juga mendapat penataan khusus.

Sejak jaman kolonial Belanda Gedung Pakuan telah menjadi persinggahan tamu-tamu sangat penting, para tokoh dunia dan tamu-tamu resmi lainnya. Tercatat tahun 1901 Raja Siam pernah singgah di Gedung Pakuan. Demikian halnya dengan Perdana Menteri Perancis tahun 1920, ketika berkunjung ke Bandung juga menjadi tamu resmi di Gedung Pakuan. Pada tahun yang sama, gitaris dunia, Andreas Segopia menjadi tami resmi di Gedung Pakuan sambil memperlihatkan kepiawaiannya memainkan dawai. Tujuah tahun kemudian, pelakon bioskop bisu, pelawak Charli Chaplin, ternyata pernah menjadi tamu resmi di Gedung Pakuan.

Dalam perkembangan pariwisata sekarang ini, sebenarnya Gedung Pakuan juga bisa disinggahi oleh para wisatawan. Hanya tentu saja mengenai waktunya, harus disesuaikan dengan kepentingan dinas Gubernur Jawa Barat. Ini dimaksudkan agar, jadwal istirahat Gubernur tidak terganggu. Demikian halnya dengan halaman yang sudah resik dan menarik ini jangan sampai acak-acakan lagi.

FO dan Distro Perkuat Bandung Sebagai Kota Mode

Sejak dulu Bandung terkenal sebagai kota mode. Di kota ini tersedia banyak pilihan bagi orang-orang yang ingion berbusana, dari yang berkelas sampai jenis pakaian kodian. Dari dulu pula Kota Bandung sudah menjadi tujuan wisata belanja fashion. Jika orang dari luar kota, bahkan dari Ibukota Jakarta atau luar Jawa, berkunjung ke Bandung sudah dipastikan bakal menyempatkan diri untuk berbelanja dan pulang membawa oleh-oleh pakaian.
Spotted at #IFEX2016 : @usandkindoflife

Gelar Bandung sebagai kota mode, tidak terlepas dari kultur masyarakatnya yang memang lebih dulu mengenal teknologi tekstil. dan banyak yang bermatapencaharian di situ. Kota ini, memang merupakan pusat industri tekstil yang komplit, yang membuat pakaian mujlai dari proses pemintalan benang, pertenunan kain sampai produksi pakaian jadi yang siap pakai.

Berdasarkan data tahun 1980-an, yang mana ketika itu pakaian dari Indonesia merajai di pasar internasional, Jawa Barat adalah pemasok utama industri tekstil nasional yang nilai ekspornya mencapai 80%. Barangtentu, yang 80% ini diproduksi di Bandung. Maka tak heran kalau masyarakat luar daerah memandang warga Bandung sebagai orang-orang yang modis, necis, perlente, dan yang tahu persis cara berpakaian. Karena penampilan warganya seperti inilah yang menjadikan Kota Bandung sebagai barometer mode nasional, sekaligus menjadi daya tarik bagi kunjungan wisatawan.

Sedangkan masyarakat Kota Bandung sendiri, amatlah bijak dalam menyikapi cap positif dari masyarakat luar itu. Label Bandung yang sejak dulu termasyur sebagai kota mode, kota jasa di sektor perdagangan bahan dan pakaian jadi, dijadikan pemicu gairah dan semangat warga di sini untuk terus mengembangkan kreativitas dan melahirkan inovasi. Dan, menambah keberanian kaum muda di sini untuk meningkatkan jiwa interpreunership, untuk selalu pintar mencari peluang bisnis, sehingga tak segan-segan menyajikan karya busana yang revolusioner untuk menciptakan trend baru.

Akhirnya, perkembangan di bidang tekstil dan garment dibuktikan dengan munculnya Faktory Outlet dan distro, yang dalam beberapa tahun terakhir kian menjamur di kota ini. Kota Bandung, sudah menjadi kota tujuan wisata belanja pakaian yang tiada duanya di Indonesia. Bahkan, produksi pakaian di Bandung yang melimpah-ruah itu dipasok ke berbagai kota di tanah air, malah tak sedikit dikirim ke beberapa negara untuk memenuhi pesanan masyarakat luar negeri.

Fenomena tersebut sangat menggembirakan bagi perekonomian masyarakat, pendapatan asli daerah (PAD), dan sedikit banyak pasti memiliki kontribusi bagi devisa negara, sekalipun muncul ekses baru yang berkaitan dengan tata ruang dan kondisi lalulintas jalan di Kota Bandung. Kini, usaha di bidang pakaian jadi terlihat amat menjanjikan, prospektif, dan telah merangkul puluhan ribu warga di sini, setelah Kota Bandung secara faktual “dinobatkan” menjadi kota mode di Pulau Jawa, Parisj van Java.

Boleh jadi, karena begitu banyaknya orang yang bergelut di bidang teklstil, garment dan bisnis fashion, maka dampak negative yang ditimbulkan oleh trade mark ini tidak digubris oleh warga di sini. Masyarakat Kota Bandung, tampaknya sudah terbiasa dengan kemacetan arus lalulintas yang dipadati oleh kendaraan dari luar daerah, terutama pada musim liburan atau hari libur.

Pada saat weekend., tampaknya warga Bandung sudah terbiasa berdesakan di pusat-pusat perbelanjaan pakaian, FO dan distro, bergalau dengan rombongan wisatawan domestik dan turis asing. Kendati hak-haknya sebagai pejalan kaki yang diganggu oleh pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan pakaian di depan FO atau distro, warga Bandung sudah pandai menyembunyikan rasa marah, malah sebaliknya dituntut agar senantiasa bersikap ramah dan welcome kepada pendatang.

Betapa tidak, warga kota ini menyadari sepoenuhnya bahwa keberadaan pusat berbelanjaan, sentra penjualan pakaian, FO dan distro yang jumlahnya cenderung terus bertambah, merupakan fenomena yang sangat positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi Kota Bandung, serta mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat kota ini.